Content Tourism sebagai Strategi Soft Power Pariwisata: Analisis Komparatif Cool Japan dan Hallyu Korea serta Rancangan Indonesia Content-Tourism Strategy

Authors

Keywords:

content tourism, soft power pariwisata, Cool Japan, Hallyu, UU No. 18/2025 Pasal 17W-Z, Indonesia Content-Tourism Strategy

Abstract

Content tourism—pariwisata yang dimotivasi oleh konten budaya populer—telah menjadi strategi soft power paling efektif yang dijalankan Jepang dan Korea Selatan selama dua dekade terakhir. Seaton dan Yamamura (2017) mendefinisikan content tourism sebagai "travel behavior motivated fully or partially by narratives, characters, locations, and other creative elements of popular culture forms". Strategi Cool Japan (sejak 2002) dan Hallyu Korea (sejak 1993-1998) telah menghasilkan dampak ekonomi yang substansial: eksport konten Korea mencapai USD 1,2 miliar pada 2024 dengan 178 juta fans Hallyu global, sementara Jepang mencatat USD 16 miliar output screen industry yang mendukung 291.000 lapangan kerja. UU No. 18 Tahun 2025 Pasal 17W-Z memperkenalkan "Kegiatan Kreatif" sebagai kategori baru dalam arsitektur hukum kepariwisataan Indonesia, namun tanpa strategi operasional yang komprehensif. Artikel ini mengevaluasi potensi Indonesia untuk mengadopsi strategi content tourism melalui kerangka soft power (Nye, 2004), contents tourism framework (Seaton & Yamamura, 2017), dan creative industries mapping (UNCTAD, 2022). Metodologi menggabungkan analisis dokumen strategi nasional Jepang dan Korea, benchmarking kuantitatif dampak ekonomi, dan pemetaan modalitas konten Indonesia. Temuan menunjukkan tiga pola: pertama, Cool Japan dan Hallyu mengikuti pola content-first, tourism-follows—investasi pada konten dilakukan sebelum infrastruktur pariwisata, dengan spillover tourism muncul 5-10 tahun kemudian. Kedua, kedua strategi mengandalkan kombinasi government enabling (pendanaan R&D, regulasi, promosi) dengan private-sector delivery (produksi konten) dan fan-driven diffusion (media sosial). Ketiga, Indonesia memiliki modalitas konten yang kaya tetapi fragmentasi institusional yang menghambat strategi terintegrasi. Artikel ini mengusulkan Indonesia Content-Tourism Strategy (ICTS) dengan lima modalitas prioritas: film-serial (K-drama style), musik (K-pop style + etno), kuliner (gastronomy diplomacy), fashion-craft, dan game-digital, serta struktur kelembagaan berupa Badan Koordinasi Ekonomi Kreatif-Pariwisata di bawah Kementerian Koordinator.

Downloads

Published

30-08-2026

How to Cite

Content Tourism sebagai Strategi Soft Power Pariwisata: Analisis Komparatif Cool Japan dan Hallyu Korea serta Rancangan Indonesia Content-Tourism Strategy. (2026). PARIWISATA: Jurnal Studi Pariwisata Indonesia, 1(02), 152-171. https://jurnalpariwisata.id/index.php/pariwisata/article/view/18